Bangka Tengah, Fakta-news.com –
Tim dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bangka Belitung (UBB) memulai program bina desa bertemakan “Pemetaan Sosial Budaya untuk Pemberdayaan Komunitas Orang Laut” di Desa Baskara Bakti, Bangka Tengah, Kamis (2/10/2026). Kegiatan yang berpusat di Kantor Desa Baskara Bakti ini diisi dengan focus group discussion (FGD) bersama warga, didahului sambutan dari pihak kampus, pemerintah desa, dan pemerintah kabupaten.
Dekan FISIP UBB, Iskandar Zulkarnain, mengatakan program ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari beberpa program studi di FISIP, dengan porsi riset paling besar berasal dari Sosiologi dan Kebahasaan. Ia menyebut tujuan utama kegiatan adalah mendengar langsung persoalan yang dihadapi warga, mulai dari bahasa, tradisi, pola permukiman, hingga kelembagaan adat yang masih bertahan.
“Kami ingin mendengar kisah, apa sebenarnya masalah orang di sini,” ujar Iskandar dalam sambutan acara.
Ia menambahkan, program ini direncanakan berlanjut lewat kolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan sejumlah asosiasi.
Ketua tim bina desa, Rizky Arif Afandi, menjelaskan bahwa Baskara Bakti dipilih karena sebelumnya belum pernah ada program bina desa di wilayah ini, berbeda dengan Air Mesu yang sudah lebih dulu digarap. Tim yang terdiri dari empat dosen lintas bidang, Rizky dari Sastra Inggris, Nisa dari Pendidikan Bahasa Indonesia, Budi dari Sosiologi, dan Padlun dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, menggunakan metode wawancara mendalam dan FGD untuk menggali data.
“Program bina desa ini tidak bisa hanya satu kali, karena targetnya memang berkelanjutan,” Ungkap Rizky.
Narasumber budayawan, Dr. Yan Megawandi, memaparkan kondisi memprihatinkan bahasa dan budaya Suku Sekak, sebutan yang lekat dengan komunitas Orang Laut di kawasan ini. Ia mengutip penelitian tahun 2012 yang mencatat jumlah penutur bahasa Sekak sudah di bawah 1.000 orang, dan diperkirakan terus menyusut hingga kini. Yan menyebut kebijakan relokasi pemerintah pada era 1970 – 1980 an yang memindahkan Orang Laut dari kehidupan nomaden di perahu ke permukiman darat, termasuk ke Desa Baskara Bakti, menjadi salah satu penyebab tergerusnya identitas budaya maritim mereka. Karena sebagian besar tradisi diwariskan secara lisan, mahasiswa ditugaskan mendokumentasikan cerita dari warga lanjut usia, mencakup tata cara memasak, adat perkawinan, metode pengobatan dan persalinan, cara membaca rasi bintang, hingga teknik membuat perahu dan berburu di laut.
Kepala Desa Baskara Bakti, Bahtiar Efendi, menyambut baik kedatangan tim UBB. Ia menyampaikan kesenian tradisional khas warga pesisir setempat, seperti campak darat dan dambus mur ombak, mulai memudar di generasi muda, sementara desa menghadapi keterbatasan anggaran untuk kegiatan seni budaya pada 2026. Ia berharap kolaborasi dengan mahasiswa dan budayawan dapat membantu menggali sejarah dari generasi tua sekaligus membuka peluang pengembangan wisata sejarah di desanya.
Senada dengan itu, Kepala Dusun Baskara Bakti, Hamdan, menyebut kebutuhan mendesak warga saat ini adalah dukungan untuk melestarikan kesenian dambus, yang terkendala minimnya dana untuk pengadaan alat musik. Ia menyebut pernah ada program dari Dinas Sosial Kabupaten Bangka Tengah sebelumnya, namun menilai kegiatan FGD hari ini sudah cukup mendengar aspirasi warga.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Bangka Tengah, Ahmad Bayani, yang hadir mewakili kepala dinas, menyampaikan dukungan pemerintah kabupaten terhadap kegiatan ini sebagai langkah awal kolaborasi antara UBB dan pemerintah daerah ke depan. (RAA)






