Banjarmasin, Faktanews-com –
Kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka bagi setiap orang yang memiliki keinginan untuk bertobat. Pesan tersebut menjadi salah satu materi dalam kegiatan Majelis Taklim di Masjid Baabut Taqwa Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Kamis (5/11), dengan menghadirkan Ustaz H. Rahmana dari Kementerian Agama Kota Banjarmasin sebagai penceramah.
Dalam tausiah yang disampaikan, Ustaz H. Rahmana mengangkat pesan keagamaan tentang ungkapan, “Dosa kecil jangan dianggap enteng, dosa besar jangan takut selagi mau meminta ampun.” Materi tersebut mengajak Warga Binaan untuk memahami pentingnya menjaga diri dari perbuatan dosa sekaligus tidak kehilangan harapan terhadap rahmat dan ampunan Allah Swt.
Mengawali penjelasannya, ia mengaitkan materi dengan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Hadid ayat 16 yang mengingatkan orang-orang beriman agar hati mereka tunduk ketika mengingat Allah dan menerima kebenaran yang diturunkan-Nya. Ayat tersebut juga menjadi peringatan agar manusia tidak membiarkan hatinya mengeras akibat lalai dari petunjuk.
Ia menjelaskan bahwa dosa kecil tidak boleh dianggap sepele karena perbuatan yang terus dilakukan tanpa penyesalan dapat menumpuk dan membawa dampak buruk bagi hati. Sebagaimana perumpamaan ranting-ranting kecil yang dikumpulkan hingga mampu menghasilkan api besar, dosa kecil yang dilakukan berulang kali juga dapat menjadi persoalan serius apabila tidak disertai kesadaran untuk memperbaiki diri.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar seseorang tidak berputus asa meskipun pernah melakukan dosa besar. Selama kesempatan hidup masih ada, pintu tobat tetap terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh kembali kepada Allah Swt. Ketakutan terhadap dosa seharusnya menjadi dorongan untuk bertobat, bukan alasan untuk menjauh dari rahmat-Nya.
Ustaz H. Rahmana juga menjelaskan bahwa tobat yang sungguh-sungguh atau taubatan nasuha harus disertai beberapa hal, yakni segera menghentikan perbuatan dosa, menyesali kesalahan yang telah dilakukan, serta memiliki tekad kuat untuk tidak mengulanginya.
Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat), Muhammad Ansyari, menyampaikan bahwa pembinaan keagamaan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kesadaran diri Warga Binaan. Melalui kegiatan seperti Majelis Taklim, Warga Binaan diharapkan dapat memperdalam pemahaman agama sekaligus menjadikannya pedoman dalam memperbaiki perilaku.
“Kami berharap materi yang disampaikan tidak hanya didengarkan, tetapi juga direnungkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, pembinaan keagamaan ini menjadi salah satu sarana untuk membangun kesadaran dan memperkuat keimanan Warga Binaan,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, Ustaz H. Rahmana mengingatkan bahwa besarnya dosa tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan untuk mendapatkan ampunan Allah Swt.
“Jangan pernah meremehkan dosa kecil karena jika terus dilakukan, dosa tersebut dapat menumpuk dan berdampak pada hati. Sebaliknya, jangan pula berputus asa karena pernah melakukan dosa besar. Selama masih diberikan kesempatan hidup, segeralah bertobat, menyesali kesalahan, menghentikan perbuatan dosa, dan bertekad untuk tidak mengulanginya,” pesannya.
Salah satu Warga Binaan, Riza (nama samaran), mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari materi yang disampaikan. Menurutnya, pesan tentang dosa dan ampunan Allah memberikan motivasi untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu.
“Saya jadi diingatkan bahwa jangan menganggap kecil kesalahan yang kita lakukan. Kalau memang pernah salah, jangan juga putus asa. Selagi masih diberi kesempatan, kita harus mau bertobat dan berusaha menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kesadaran spiritual Warga Binaan.
“Kami ingin Warga Binaan memanfaatkan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk introspeksi dan memperbaiki diri. Melalui pembinaan keagamaan, mereka diharapkan memiliki pegangan moral dan spiritual yang kuat sehingga dapat menjalani kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujar Kalapas.
Melalui kegiatan Majelis Taklim, Lapas Banjarmasin terus mendorong penguatan pembinaan kepribadian yang tidak hanya memberikan pemahaman agama, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk meninggalkan perbuatan buruk, memperbaiki diri, dan menjalani kehidupan dengan nilai-nilai keagamaan. (Humas Lapas Banjarmasin)






