Tanam, Rawat, Panen! Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Petik 25 Kg Terung

Karang Intan, Fakta-news.com

Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan memanen 25 kilogram terung dari lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) 3, Rabu (26/08/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian melalui bidang pertanian yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar, bekerja, menghasilkan produk, sekaligus merasakan manfaat ekonomi dari keterampilan yang mereka kembangkan.

Dengan pendampingan dan pengawasan Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja, M. Ridhoni, serta Kepala Subseksi Sarana Kerja, Erwin Fazrin, warga binaan melaksanakan proses pemanenan dengan tertib dan aman. Pendampingan dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai dengan tahapan pertanian yang telah ditentukan sekaligus memberikan arahan selama proses pemanenan.

Dari kegiatan tersebut, warga binaan berhasil mengumpulkan sekitar 25 kilogram terung. Hasil panen kemudian dipasarkan kepada petugas Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan dan masyarakat, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada proses produksi, tetapi dapat dimanfaatkan sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Kasubsi Sarana Kerja, Erwin Fazrin, menyampaikan bahwa pemasaran hasil panen menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman yang lebih lengkap kepada warga binaan, mulai dari proses produksi hingga pemanfaatan hasil.

“Kami ingin kegiatan pertanian ini tidak hanya mengajarkan warga binaan cara menanam dan merawat tanaman, tetapi juga mengenalkan bagaimana hasilnya dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Hasil panen terung ini kami pasarkan kepada petugas dan masyarakat agar warga binaan dapat melihat secara langsung bahwa keterampilan yang mereka pelajari bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai,” ujarnya.

Selain memberikan pengalaman produksi dan pemasaran, hasil kegiatan tersebut juga memberikan manfaat langsung bagi warga binaan yang terlibat. Hasil penjualan panen menghasilkan premi yang kemudian diserahkan kepada warga binaan sesuai dengan mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Hal ini menjadi bentuk apresiasi atas keterlibatan serta kerja yang mereka lakukan dalam rangkaian pembinaan kemandirian.

Salah seorang warga binaan berinisial DN mengaku senang dapat terlibat dalam proses pertanian hingga menghasilkan panen yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain.

“Kami senang bisa ikut merawat tanaman sampai dipanen. Rasanya ada kepuasan ketika hasil yang kami kerjakan bisa dinikmati petugas dan masyarakat. Kami juga mendapat pengalaman tentang bagaimana hasil pertanian bisa dipasarkan dan menghasilkan premi. Dari sini kami belajar untuk lebih rajin, bertanggung jawab, dan memiliki keterampilan yang mudah-mudahan bisa kami gunakan setelah selesai menjalani pembinaan,” tuturnya.

Kegiatan pertanian di SAE 3 menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang memberikan pengalaman secara langsung kepada warga binaan. Mereka tidak hanya belajar mengenai teknik dasar pertanian, tetapi juga dilatih untuk memahami proses kerja, menjaga kualitas hasil, hingga mengenal pemanfaatan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Pelaksanaan kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan terhadap 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya program pemberdayaan warga binaan untuk mendukung ketahanan pangan. Melalui kegiatan pertanian, warga binaan diberdayakan untuk menghasilkan komoditas pangan sekaligus memperoleh keterampilan kerja yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat.

Bagi Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan, pemberdayaan warga binaan melalui pertanian tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada proses pembentukan sikap mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan produktif. Hasil panen yang dapat dipasarkan sekaligus memberikan premi turut menunjukkan bahwa pembinaan mampu menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh warga binaan.

Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan akan terus mengembangkan kegiatan pertanian di SAE secara berkelanjutan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian, penguatan keterampilan kewirausahaan, serta dukungan terhadap ketahanan pangan. Dari lahan SAE 3, 25 kilogram terung menjadi bukti bahwa proses pembinaan dapat tumbuh menjadi hasil nyata yang memberi manfaat bagi warga binaan dan masyarakat. (ism).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *